Selasa, 24 Maret 2015

3. Menjadi Belletmen.

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Assalaamu’alaikum, Musafiers...
Salaam, artinya damai... ‘ala = atas/kepada, dan kum = kalian.

Semoga kalian sehat selalu, dan makin bersemangat menjalani hari-hari di bumi ini... aamiin...
Baiklah, kali ini aku akan membahas tentang hal yang sedikit penting, emmmm... tunggu! penting gak ya?! Eiih,. gak tau deh ini penting atau nggak. Yow wess, sing penting bermanfaat wae yo,. in sya’a Allah.. :)
Ceritaku bermula sejak pertama kali aku datang ke Jogja, untuk kuliah di UNY (Universitas Nusantara Yogyakarta). :) Aku tinggal di asrama mahasiswa namanya Ulul Albab. Asrama ini keren banget, disana aku dididik keilmuan Islam yang membuatku setidaknya paham akan agama Islam, meskipun sedikit. Hehe... Alhamdulillah..

Pagi hingga sore aku kuliah, sedangkan malam hari waktuku untuk belajar agama. Aku tinggal bersama 3 orang di sebuah rumah kontrakan, dan bagiku cukup nyaman. Alhamdulillah...

Sebenarnya ada beberapa kontrakan milik asrama Ulul Albab ini, tersebar di beberapa tempat yang tidak terlalu berjauhan. Masing-masing rumah ini ditempati oleh beberapa mahasiswa, sedangkan tempat tinggalku terletak di Jalan Kaliurang KM 6,5 –tepatnya di Kentungan.

Setelah setahun aku tinggal di asrama ini, tentu ada banyak hal yang aku dapatkan di kota perantauan ini. Aku mengenal para ustadz yang baik hati dan banyak ilmunya. Nasihat-nasihat mereka yang begitu menenteramkan hati gundah gulana, menyegarkan jiwa yang sedang kehausan, dan menyirami dada agar tetap berlapang dan bijaksana, semoga Allah merahmati mereka.

Selain itu, aku juga mengenal teman-teman dari berbagai kota di Indonesia. Meskipun aku jauh dari orangtua dan sanak saudara, tapi aku merasa seperti hidup di tengah-tengah keluargaku sendiri. Ibarat makan sudah sepiring, tidurpun sudah seatap. Begitu pula bila dirundung kesedihan masalah, kami saling membantu sehingga ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Alhamdulillah...

Lalu tidak lama setelah itu, aku berjumpa dengan seorang musafir dari negeri jauh, Turki. Matanya biru, rambutnya sedikit pirang, kulitnya putih, tubuhnya tinggi-langsing dan hairy. Hehe.. Namanya Latif Ulker abi. Beliau ini lancar sekali berbahasa Indonesia. Aku sedikit heran sekaligus kagum. Kok iso yo? Ternyata beliau sudah beberapa tahun tinggal di Indonesia. Beliau awalnya kuliah di Aceh, lalu pindah ke Jogja dan mendapat gelar sarjana di kota ini. Tapi kemampuan beliau berkomunikasi berbahasa Indonesia patut diacungi jempol. Top markotop, deh. Seringkali aku bertanya atau berbicara menggunakan Bahasa Inggris ke beliau, tetapi dijawab menggunakan Bahasa Indonesia, yah akhirnya terus aja pake Bahasa Indonesia deh selanjutnya. Hehe.. Tapi aku pengen banget bisa berbahasa Turki, sebenarnya sudah belajar sih, cuma aku nggak istiqomah belajarnya, ya hasilnya jadi belepotan kacau sangat bahasa Turkinya. :) huhu...

Pada waktu itu, beliau sedang menjalani studi S2, juga di UNY. Tapi sekarang sudah lulus. 
Alhamdulillah... Cuma aku nih yang S1 saja belum lulus juga, hiks.. Mohon doanya ya, supaya aku segera wisuda.. aamiin... :)

Awalnya pertemuan kami hanya mengobrol santai di Food Court, kemudian lama kelamaan kami saling mengenal satu sama lain. Aku juga merasa nyaman. Hubungan kami semakin akrab, sudah seperti kakak-beradik yang dipertemukan di kota perantauan. Beliau selalu siaga ketika aku mintai pertolongan, dan aku terkadang juga diundang dalam acara spesial. Pokoknya, deket banget. Diketahui bahwa beliau ini tinggal di sebuah tempat, namanya dershane (Bahasa Turki). Aku juga sering berkunjung ke dershane ini.

FYI nih ya, ders itu artinya belajar, hane artinya tempat, jadi dershane adalah tempat belajar. Namun menurut istilah (ciieee,.. kayak wikipedia aja?!) dershane adalah sebuah tempat atau rumah yang disediakan untuk para penuntut ilmu, yang awalnya dicetuskan oleh para Thullaabun Nur –para murid dari seorang ulama besar Turki, Badiuzzaman Said Nursi. Namun sekarang beliau sudah wafat, semoga Allah melapangkan kuburnya dan menempatkan beliau di surgaNya. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kisah agung ulama hebat ini, bisa membaca novel keren berjudul “API TAUHID”, karya kang abik (Habiburrahman El-shirazy).

Kini perjuangan beliau dilanjutkan oleh seorang murid beliau, yaitu ustadz Muhammad Fethullah Gulen Hoca Efendi. Usaha beliau ini untuk menyebarkan Islam juga luar biasa. Selain aktif berceramah dan memberi kajian untuk murid-murid beliau, buku-buku tulisan beliau juga banyak bertebaran dan sudah diterjemahkan kedalam berbagai macam bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Beberapa buku yang sudah aku baca, seperti; ISLAM, Membangun Peradaban Kita, Qadar, Cahaya Al-Quran, Cahaya Abadi dan masih banyak lagi. Dan semuanya keren-keren...

Nah yang lebih penting lagi, perjuangan Hoca Efendi untuk membangun kesadaran umat Islam tidak sampai disitu, beliau bersama murid-murid beliau mendirikan sekolah-sekolah yang kemudian berkembang ke berbagai negara-negara di dunia. Dan Indonesia, tidak ketinggalan juga untuk mendirikan sekolah yang diampu oleh murid-murid Hoca Efendi. Karena jalan terbaik untuk menyelesaikan berbagai masalah di dunia fana ini ialah dengan pendidikan. Sebut saja korupsi, kemiskinan, kelaparan, atau bahkan peperangan, hanya bisa diselesaikan dengan pendidikan.  Mendidik anak-anak, mendidik ummat, mendidik kita semua dengan ilmu dan akhlak yang mulia.

Ada beberapa sekolah yang mungkin Anda kenal, seperti sekolah Fatih di Aceh, Kharisma Bangsa di Tangerang, Pribadi di Depok dan Bandung, Semesta di Semarang, Kesatuan Bangsa di Yogyakarta, Sragen di Sragen (dekat Solo), dan masih ada beberapa sekolah lagi di berbagai kota di Indonesia yang terus berkembang. In sya’a Allah...

Sekolah-sekolah itulah yang kini tegak berdiri yang dikembangkan oleh murid-murid Hoca Efendi. Ini baru di Indonesia loh, belum di negara lain, belum juga di benua lain, masih ada banyak lagi di luar sana. Mudah-mudahan tetap berdiri tegak namun tetap tawadhuk dan istiqomah dalam menjalankan misi untuk mengajarkan ilmu dan membentuk pribadi yang berakhlak mulia bagi ummat ini. Aamiin yaa Rabb.

Sistem di sekolah-sekolah ini menyediakan tempat tinggal bagi siswa-siswanya, yang kita sebut sebagai asrama. Jadi setiap sekolah ada asramanya. Dan aku, Alhamdulillah, bisa ikut andil dalam dunia pendidikan melalui asrama ini. Memang betul, pendidikan adalah salah satu kunci untuk mengatasi berbagai kekacauan di dunia fana ini. Dengan pendidikan pula, kita bisa berbagi ilmu dan mencetak generasi yang berakhlak mulia luar biasa.

Karena aku bermukim di Jogja, maka aku tinggal di asrama yang terletak di Jogja, yaitu di Kesatuan Bangsa School, Yogyakarta, sejak pertengahan tahun 2011 sebagai Belletmen, pembina asrama. Awalnya aku galau sangat ketika ditawari oleh Latif Abi untuk menjadi pembina asrama di sekolah ini. Berbagai macam pertimbangan muncul, ada pro-kontra, ada keraguan, ada ketakutan, ada perasaan yang menggebu-gebu, dan ada pula keinginan yang besar untuk ikut andil dalam bidang pendidikan (kapan lagi coba kalau ditunda-tunda?), semua bercampur (mix) jadi satu.Aku bingung.

Aku merasa belum pantas untuk membina para siswa, siapalah aku? Aku yang seharusnya dibina, bukan membina. Lagipula, letak antara kampusku dan asrama ini sungguh tidak dekat, kira-kira 30-40 menit perjalanan naik sepeda motor. Aku sekarang kan juga sudah nyaman tinggal di tempatku sekarang ini, bersama teman-teman yang sudah seperti keluarga sendiri, bisa bebas bermain kesana-kemari, kampus-rumah juga dekat sekali. Aku juga bukan alumni di antara sekolah-sekolah ini, aku masih takut untuk menyesuaikan diri. Dan masih banyak lagi pertimbangan lain yang terus aku fikirkan lagi, lagi, dan lagi...

Tiga bulan kemudian, setelah aku shalat istikharah berulang-ulang, barulah muncul perasaan teguh dan mantap; “Wahai Musafir, sudah saatnya engkau berbagi kepada saudara-saudaramu yang lebih muda, buang jauh-jauh rasa egoismu untuk menikmati hidupmu sendiri, biarkanlah letaknya jauh karena itulah pengorbanan sejati yang tidak mengenal jarak bila engkau paham akan makna perduli. Pergilah, kunjungilah, dan sayangilah adik-adikmu disana dengan hati yang tulus, ajarilah mereka yang belum paham, nasihatilah mereka agar terus berbakti, berbagilah pengalaman hidupmu agar mereka terus bersemangat mengarungi bahtera hayati...”

Aku tertunduk, dalam sujud aku menyerahkan diri. Ini adalah perkara besar masalah tanggung jawab, amanah yang tidak boleh disia-siakan. Sekali lagi aku melihat diriku sendiri, aku? Siapa aku? Kenapa aku? Dan akhirnya aku berujar dalam hati, “Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung.” Akhirnya aku mantap untuk tinggal bersama keluarga baruku di asrama Kesatuan Bangsa. Selamat datang! :) Hos Geldiniz...!!!

Begitulah kisah perjalananku sehingga aku bisa sampai disini, bersama anak-anakku tersayang... cieeee, hehe,.
Selalu saja ada banyak orang yang bertanya-tanya, bagaimana sih, kok bisa aku disini, dan biasanya aku iseng karena bosan menceritakan lagi, lalu kujawab singkat,

“Aku punya teman, tikus pengerat penggali tanah. Aku dan dia bersama-sama membuat terowongan di dalam tanah ke berbagai negara, tiba-tiba saat muncul ke permukaan, ternyata aku ada disini, akhirnya aku mampir dulu disini. LOL. Selesai.” Atau,

“Aku punya teman, mas Moosaevier dari planet Pluto. Aku dan dia jalan-jalan keliling bumi pakai pesawat UFO, tiba-tiba kami mendarat disini. Setelah itu dia pergi dan aku tetap tinggal disini, selesai. LOL.” Hehe...

Untuk kisah selanjutnya, mengenai pengalaman-pengalaman seruku di asrama, in sya’a Allah aku lanjutkan lagi nanti. Aku mau nggarap skripsiku dulu, hehe...
Soalnya dia udah dari tadi memanggil-manggil, “Ayo, kerjain aku, kerjain aku..” sambil tangannya melambai-lambai kayak zombie, hhiiii... :D

Iya juga sih, kalo nggak dikerjain, nanti malah dia yang ngerjain aku... hiiii.... :p
Baiklah, ayo skripsi... sini.
Yuk, kita mengembangkan layar perahu, mengarungi lautan teori dan mampir ke pelabuhan data-data.
Ay ay captain!” jawabnya semangat.
Sampai disini dulu ya, bye-bye....


Wassalaamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh...

Selasa, 17 Maret 2015

2. Tasbih Alam Semesta.

Bismillaahirrahmaanirrahim...

Selamat datang di Bumi, Musafiers... Cheeerrs....!!!
Karena aku masih berdarah biru, eih,. maksudku masih berdarah muda, hehe.. (atau berdarah biru-muda ya?! Embuh!), maka muncullah aku dengan tulisan alay-ku, berikut ini. haha...

Jangan terkejut dan,... selamat membaca... :)

Dulu, bukan pada zaman ‘dahoeloe’ kala sih, tapi zaman baheula –tepatnya ketika aku masih SMP, rasanya pengeeeen ‘banget-banget-banget’ sekolah pake celana panjang. Istilahnya “ngidam” gitu, eiiih,. emang sedang hamil pho? Kok pake ngidam segala. Maklum, aku belajar di sekolah negeri. (Sebenarnya sejak SD sampai kuliah aku tetap masuk ke sekolah negeri). Yah, mungkin karena cinta akan negeri sendiri sih, itu alasan singkatnya. (baca: pakailah produk-produk dalam negeri.) LOL.
Jadi begini, Sekolah Menengah Pertama di sekolah negeri itu aturannya masih pakai celana pendek. Lututnya masih kelihatan –padahal itu aurat loh. Dan pada waktu itu aku sudah baligh. Jadi ngerasa gimana gitu, serba salah, tapi aku dulu masih abal-abal, (sekarang juga ‘sebenarnya’ masih abal-abal, :D LOL) jadi PD aja pakai celana pendek di depan umum...
Baik, aku pernah bersekolah di SD Negeri 7 Bukit Kemuning. Kemudian karena alasan tertentu, aku dipindahkan oleh Abahku ke sekolah yang lebih jauh dari rumah, yaitu SD Negeri 1 Bukit Kemuning. Kehidupanku normal layaknya anak-anak yang lain (aku merasa, seperti ituuu..: bilang ‘seperti itu’nya pakai cara Teteh Syahroni ya..) LOL. [Kok jadi jijay maksimal ya? Entahlah..]
Anyway, setelah tamat dari sekolah tercinta tersebut, aku melanjutkan lagi sekolah di SMP Negeri 1 Bukit Kemuning.
{Dimana itu?}
(Di Lampung mas..)
{Itu juga dimana?}
(Indonesia)
{Hah?! Indonesia? Itu dimana?}
(Di sekitar Asia, bagian dari Asia Tenggara)
{Asia? Asia Tenggara? Wuah, itu juga dimana? Aku tidak tahu.}
(Bumi!)
{Oh, Bumi. Planet Bumi kan?}
(Hahaha... Hoy..! Ya iya lah, Planet Bumi. Please deh, Tolong! Lha, kamu siapa sih? Kok nggak tau Asia Tenggara? Kamu juga nggak tau Indonesia yang super duper negara kepulauan terbesar di dunia, gitu loh?! Emangnya kamu dari mana dan hendak kemana?)
{Oh, maaf bang! Kenalkan, namaku Moosaevier, dari Pluto. Aku hendak berkelana keliling alam semesta. Dan ternyata sekarang aku berada di Bumi. Ini Bumi kan?}
(OMG, wait! Hey, ternyata kamu alien ya! Haha.. Wuah, Sorry banget ya. Ok, ok. Baik, aku memaklumi! Tapi kok jauh-jauh dari sana terus kesini? Mau ngapain? Lagi selo ya? LOL. Kalau begitu, selamat datang deh di Planet Bumi mas Moosaevier! Wuah, aku kedatangan tamu dari jauh nih, dari Planet sebelah.)
{Iya, terima kasih. Nama kamu Musafir kan?}
(Lha, kok tau? Darimana taunya?)
{Barusan aku men-scan kepalamu, dan otakmu mengatakan bahwa namamu Musafir. Iya kan? Ayo ngaku!)
(Emmm, iya sih.. Wuah, kamu kok keren sih? Bisa men-scan segala. Cuma pake mata lagi. Kayak di film-film gitu. Tapi, tunggu. Kok kamu malah nggak tau dimana letak sekolahku sih? Harusnya kan tau! Kan lebih canggih, nggak usah pake nanya-nanya segala. Belum kenal sekolahku ya? Disitu kadang aku merasa sedih?!)
{Wuah, maaf sangat mas Musafir. GPS-ku sedang tidak berfungsi. Soalnya batterynya habis, boleh numpang nge-charge nggak? Boleh ya, boleh ya! Please...}
(Emmm, boleh nggak ya? Bentar! Aku mau hitung pake jari dulu, boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak. Nggak Boleh!)
{Wuah, kok gitu sih? Disitu kadang aku juga merasa sedih?!}
(Wajahmu melas banget. Oke deh. Aku coba hitung sekali lagi ya, sekarang ditambah pake jari kaki. Nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh. Yey! Boleh, selamat! Kamu jadi pemenang! Tapi jangan lupa, dipotong pajak ya! Kamu boleh numpang nge-charge disini. Tapi harus dipotong pajak! Eiihh, maksudku ada pajaknya!)
{Wuah, Alhamdulillah, yah... terimakasih banyak... J Tapi, kok ada pajaknya sih? Nggak gratis aja?}
(Ya, iya lah.. Mas Moosaevier punya kartu member nggak? LOL. Dimana-mana nggak ada yang gratis, mas! Aku kasih tau ya! nih, mau makan, mau minum, mau belanja, semua ada pajaknya. Mau jalan-jalan ke toko –walaupun kamu nggak beli apapun ditoko itu, tapi tetep aja harus bayar pajak “parkir”. Tidak cuma itu, kalo mau ke toilet umum juga harus bayar pajak loh. Kalo untuk tarif baru-baru ini sih, kabarnya naik. Soalnya harga BBM juga naik. Keren kan di planet kami? Di planetmu nggak ada pho pajak-pajakan?)
{Nggak ada. Semua fasilitas umum di planet kami bisa dinikmati gratis oleh semua penduduk Pluto. Pemerintahan di Planet kami cuma satu, jadi tanggung jawab penuh ada di tangan seorang raja kami. Raja kami baik sekali. Semua rakyatnya juga patuh kepada beliau. Oh iya, aku bisa jalan-jalan ke Bumi ini, juga gratis loh. Tapi aku punya misi rahasia yang sedang aku kerjakan. Nggak harus ASAP [As Soon As Possible] kok. Fleksibel aja semau aku. Soalnya freelance. Jadi aku bisa kerja, sambil jalan-jalan keliling dunia alam semesta.}
(Wuah, keren ya... Aku juga mau dong kayak gitu, tapi tunggu! Kamu punya misi rahasia? Gerangan apakah misi rahasia itu?)
{Emmm, kasih tau nggak ya? Namanya juga kan rahasia, jadi nggak boleh diketahui oleh sembarang orang. Bentar, aku juga mau hitung pake jariku, kasih tau-nggak-kasih tau-nggak-kasih tau-nggak-kasih tau-nggak. Wuah, nggak. Berarti nggak boleh di-kasih tau. Maaf ya.}
(Loh, kok gitu? Coba hitung lagi dong, juga ditambah pakai jari kaki.)
{Ok, nih lihat jari kakiku cuma ada dua, jadi semuanya ada empat. Jari tanganku semuanya ada delapan. Tadi sampai mana? Di-nggak ya? Jadi lanjut ; kasih tau-nggak-kasih tau-nggak. Wuah, tetap aja nggak boleh di-kasih tau. Done!}
(Iiiih, kamu kok gitu sih? Tega ya sama aku? LOL. Disitu kadang aku merasa sedih!)
{Ok, baik-baik. Janganlah dikau merasa bersedih. Aku mau kasih tau, tapi nanti saja ya. Nggak sekarang. Tunggu waktu yang tepat dan akurat. Biar informasinya tajam, setajam SILET! ; meniru gaya Mbak Peniti Bross}
(Horee, tapi bener ya, janji. Sini jari kelingkingmu. Kita buat janji. Titik. Done! Oh iya, kamu kan mau keliling dunia ya? Di bumi ini ada berbagai macam dunia loh.. kamu mau berkunjung kesana?)
{Oh, iya kah? Memangnya ada dunia apa aja?}
(Ada banyak sekali, kamu nggak tau pho? Mulai dari yang kecil-kecil ya, nih ada dunia mikroba, dunia semut, dunia serangga, dunia fungi, dunia hewan, dunia tumbuhan, dunia manusia dan lain-lain. Mau yang abstrak juga ada kok, dunia sihir, dunia maya, dunia internet. Bahkan ada juga dunia ketiga, dunia fana, sampai dunia akhirat juga ada. Tapi, kamu harus mati dulu untuk berkunjung ke dunia akhirat. Eh, ada juga dunia lain. Disana nggak ada makhluk kasar, semuanya halus. Hayoo, mau pilih yang mana?)
{Duh, yang mana ya? Aku bingung. Sebenarnya semuanya mau aku kunjungi, tapi bertahap. Bagusnya dimulai dari mana ya? Kalo Dunia Saurus ada nggak ya?}
(Dunia Saurus? Maksudmu Dinosaurus? Wuah, maaf sekali, Dunia yang kamu maksud itu sudah lama sekali punah. Sama seperti dunia Atlantis. Mereka semua punah. Tiada satu pun yang tersisa. Kamu datangnya telat sih. Gimana kalo dimulai dari dunia maya saja? Kamu punya akun twitter, facebook, atau instagram?}
{Nggak punya, aku cuma punya skype aja. Biar bisa seolah-olah nyata gitu kalo ngobrol, soalnya bisa sambil lihat wajah lawan bicara.}
(Oh gitu, emang nggak kaget pho lawan bicaramu ketika melihat wajahmu?)
{Emm, ya nggak dong! Malah banyak yang nge-fans sama aku. Di Pluto aku ini seniman terkenal. Aku juga seorang sastrawan. Aku suka nulis. Aku juga seorang pelukis dan penyanyi terkenal. Katanya sih terkenal, soalnya video-ku di Youtube banyak yang nge-like. Dan aku masuk TV gara-gara itu. Haha... Wajahku juga hampir mau di-operasi plastik. Biar tambah ganteng gitu. Tapi ibuku nggak nge-bolehin. Katanya dosa. Akhirnya nggak jadi deh, jadi tetep aja wajahku apa adanya seperti yang sekarang. Tapi tetep ganteng, cakep, imut, dan keren kan?}
(What? Aku nggak salah dengar ya? Bentar! Ada plastik asoy nggak? Aku mau buang sesuatu dari mulutku. (baca:muntah) LOL. Emmm, iya deh. Kamu tetep seperti apa yang kamu maksud kok. Eh, ngemeng-ngemeng kamu itu ternyata keren ya. Banyak hal yang belum aku ketahui tentang kamu.)
{Iya, makanya jangan nge-judge people by its cover lah. Biar ndak salah, biar nggak nyesel juga nanti di akhirnya.}
(Oke deh, tadi aku cuma bercanda kok. Betewe, kamu tadi bilang ‘dosa’, jadi kamu tau konsep dosa? Di Pluto ada ya?)
{Ya iya lah, gini-gini kami juga beragama. Karena kami juga tahu bahwa kami ini hanyalah makhluk yang diciptakan. Kalau kami diciptakan, berarti kami ini ada yang menciptakan dong.}
(Maa sya’a Allah, kamu betul. Segala sesuatu yang ada ini pasti ada yang menciptakan. Mulai dari baju, sandal, sepatu, sampai bangunan-bangunan yang tinggi menjulang ke langit itu. Bahkan barang-barang elektronik seperti; laptop, komputer, handphone, mobil, motor, robot, dan pesawat, semua ini yang menciptakan adalah kami, bangsa manusia. Tentu saja alam semesta yang super canggih dan besar dengan segala keteraturan sistemnya ini tidak begitu saja terjadi dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakan, bukan?)
{Iya, aku juga setuju. Dan lebih hebat lagi, pencipta ini cuma satu, sendiri saja. Nggak ada sesuatu lain yang setara atau menyerupai Dia. Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan. Dia Yang Maha Besar, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.}
(Tentu dong, kalo penciptanya ada dua atau lebih, maka antara satu pencipta dengan pencipta lainnya akan bertengkar. Mereka pasti akan saling menguasai satu sama lain. Saling menghancurkan satu sama lain. Maka tidak akan ada keteraturan yang apik dan rapih di alam semesta seperti sekarang ini.)
{Wuah, kamu pintar ya. Aku juga awalnya salah menilai kamu. Aku kira kamu tidak tahu apa-apa mengenai Sang Pencipta.}
(Kalo konsep umumnya sih aku tahu. Semua orang juga tahu tentang itu. Aku juga masih harus banyak belajar kok. Semakin banyak aku belajar, semakin banyak pula aku mengenalNya. Aku ingin terus mencari ilmu tentangNya. Kamu tau? Ketika aku semakin melangkah maju, semakin haus pula pengetahuanku tentang penciptaku. Dan sebisa mungkin aku mematuhi kehendak penciptaku.)
{Bener banget, bro Musafir. Kalau aku malah jadi semakin cinta. Jadi semakin tau mengapa aku diciptakan dan apa tujuan hidupku diciptakan? Kamu tau nggak? Ini saat yang tepat bagiku untuk memberitahukan misiku kenapa jauh-jauh datang dari planet Pluto. Semakin jauh aku berkelana, maka semakin banyak pula ayat-ayatNya yang bisa aku baca. Semua makhluk yang ada di alam semesta ini, baik yang ada di planetku, atau di planet-planet lain yang pernah kukunjungi termasuk Bumi, ternyata semua makhluk itu senantiasa bertasbih memuji penciptaNya. Masing-masing dari mereka memiliki cara tersendiri dalam bertasbih memuji Tuhannya yang menciptakan mereka, dan sayangnya pujian mereka belum bisa aku pahami. Hanya dirinya dan Tuhannya lah yang mengetahuinya.}
(Oh, misimu itu mulia sekali. Aku jadi pengen berkenalan dengan rajamu yang mengutusmu untuk itu.)
{Boleh, kapan-kapan kamu akan ku ajak main ke istana kerajaan di Pluto. Semua rakyat bebas keluar-masuk istana. Mereka disambut baik oleh para pelayan raja. Apalagi kalau ada tamu dari luar Pluto, raja kami akan merasa sangat senang sekali. Tentu kamu akan disambut hangat disana bila berkunjung. Raja kami sangat baik hati, ramah, cerdas, adil, dan bijaksana. Bagaimana tidak, satu planet hanya beliau saja rajanya. Tapi jangan salah, meskipun begitu, raja kami tetap rendah hati, tawadhuk, dan tidak pernah menyombongkan diri. Raja kami tidak pernah sekalipun men-zhalimi rakyatnya. Raja kami begitu amanah menjalankan tugas untuk mengayomi rakyatnya.}
(Aku pengeeeeeeeeeen! Beneran. Pengen ‘banget-banget-banget’ ke istana kerajaan Pluto. Bawalah aku kesana mas Moosaevier. Please...)
{Bersabarlah, saudaraku... Kelak kau akan bisa pergi kesana, berkelana seperti aku –sambil membawa misi yang mulia. Kita akan belajar ternyata ada makhluk lain selain diri kita sendiri di luar sana. Dan kita harus saling respect, saling menghormati satu sama lain. Tidak boleh menyakiti orang lain, baik dengan tangan ataupun dengan ucapan kita. Mau itu makhluk hidup ataupun makhluk yang tak hidup. Semua harus kita jaga dan hormati. Tapi yang terpenting, kita akan belajar bahwa ada Pencipta yang senantiasa mengawasi kita. Dan segala urusan kita kembalikan kepadaNya.}
(Iya, mas Moosaevier. Makasih banyak ya. Aku jadi banyak belajar dari mas Moosaevier.)
{Iya, sama-sama. Kita sama-sama saling belajar ya. Oh iya, ngemeng-ngemeng, ini GPS-ku minta tolong di-chargekan ya.}
(Oh iya, duh. Maaf, keenakan ngorbol ya nyampe lupa. Hehe.. Maaf ya. Sini. Silakan.)
{Oke, nggak papa. Terimakasih.}

Setelah itu, aku dan mas Moosaevier jalan-jalan mengelilingi Bumi pakai pesawatnya. Mereka bilang kami ini UFO. Hehe.. Anyway, aku belajar banyak tentang langit dan bumi, beserta isinya. Dan aku semakin yakin, bahwa mereka semua ada yang menciptakan dan dijaga dalam keteraturan peredarannya, siang-malam, hingga waktu yang ditentukan, sesuai atas kehendakNya.

[Wahai Muhammad, katakanlah: “Allah adalah Tuhan Yang Esa. Allah Yang Menjamin segala kebutuhan makhlukNya. Allah tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan. Tidak ada sesuatu pun yang menyamai Allah.” {T.Q.S. Al-Ikhlas (1-4)}]


Kemudian alarm-ku berdering hebat memecah dinginnya kesunyian subuh, lalu azan tidak lama berkumandang saling bersahutan dari setiap penjuru rumah Tuhan. Alhamdulillah, untung aku tidak kesiangan. LOL.

Mereka bilang aku ini alien. Namaku Moosaevier.  LOL.

Lihatlah alam dengan hatimu, niscaya engkau akan menemukan keteraturan yang membuatmu menangis tunduk kepada penciptanya.

Senin, 16 Maret 2015

1. Selamat Datang di Planet Bumi...

A'udzubillahi min asy-syathaanirrajiim...
Bismillahirrahmaanirrahiim...

Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wata'alaa, Tuhan seru sekalian alam.
Dan shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi besar Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

22 Januari 1993, Bukit Kemuning, Lampung Utara, Lampung, Indonesia.
Alhamdulillah, hari ini pertama kali hidungku menghirup oksigen di dunia fana ini...
Pertama kali telingaku mendengar suara merdu azan,
"Allaahu Akbaru Allaahu Akbar..."
"Asyhadu an laa ilaa ha illa Allah, Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah."
Aku terlahir sebagai seorang Muslim, Alhamdulillah...
Dan aku akan mati dalam keadaan Muslim, bi idznillahi 'azza wa jalla...
Pertama kali tenggorokanku mengeluarkan suara jeritan tangis manja...
Pertama kali tubuhku menyentuh air bumi yang segar...
Pertama kali aku menjadi musafir di bumi Allah yang sementara...


Usiaku sekarang sudah setahun, dan aku sedang belajar berjalan di muka bumi Allah.

Aku akan terus belajar berjalan...
Terus belajar tentang kehidupan....
Terus belajar tentang alam dan keragamannya yang bermacam-macam...
Terus berjalan menyusuri waktu dan pengalaman...
Semua ini adalah karunia Allah ta'aalaa...
Semua ini adalah nikmat untuk mengujiku, akankah aku menjadi hamba yang bersyukur? atau malah menjadi hamba yang kufur? na'udzubillah...
Aku berlindung kepada Allah dari segala macam bentuk kekufuran dan kesyirikan...
Tugasku adalah menebarkan kasih sayang dan cinta 'karena Allah' kepada semua makhlukNya...
Berbuat baik kepada kedua orangtua,
Saling membantu kepada sesama umat manusia...
Saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran...
Dengan izin Allah, semua ini dapat berjalan dengan istiqomah...
Dia Yang Maha Penjaga keteraturan semua alam, baik dari alam atom (mikrokosmos), hingga alam semesta (makrokosmos)...
Hanya kepadaNya aku menyembah, dan hanya kepadaNya aku memohon pertolongan...
Hanya kepadaNya bertasbih semua makhluk...
Dan hanya kepadaNya pula akan kembali semua makhluk, tak terkecuali diriku sendiri...
"Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiuun...."
Dari sini, bermula-lah perjalananku...
Menjadi musafir di atas muka bumiNya...

{Allah lah yang telah menciptakan bumi terhampar untuk kepentingan kalian. Wahai manusia, berjalanlah kalian di muka bumi dan makanlah dari rezeki-Nya. Hanya kepada Allah lah semua makhluk akan di kembalikan. [T.Q.S. Al-Mulk (15)]}