Bismillaahirrahmaanirrahim...
Selamat datang di Bumi, Musafiers... Cheeerrs....!!!
Karena aku masih berdarah biru, eih,. maksudku masih berdarah muda, hehe.. (atau berdarah biru-muda ya?! Embuh!), maka muncullah aku dengan tulisan alay-ku, berikut ini. haha...
Jangan terkejut dan,... selamat membaca... :)
Dulu, bukan pada zaman ‘dahoeloe’ kala sih, tapi zaman baheula –tepatnya ketika aku masih SMP, rasanya pengeeeen ‘banget-banget-banget’ sekolah pake celana panjang. Istilahnya “ngidam” gitu, eiiih,. emang sedang hamil pho? Kok pake ngidam segala. Maklum, aku belajar di sekolah negeri. (Sebenarnya sejak SD sampai kuliah aku tetap masuk ke sekolah negeri). Yah, mungkin karena cinta akan negeri sendiri sih, itu alasan singkatnya. (baca: pakailah produk-produk dalam negeri.) LOL.
Karena aku masih berdarah biru, eih,. maksudku masih berdarah muda, hehe.. (atau berdarah biru-muda ya?! Embuh!), maka muncullah aku dengan tulisan alay-ku, berikut ini. haha...
Jangan terkejut dan,... selamat membaca... :)
Dulu, bukan pada zaman ‘dahoeloe’ kala sih, tapi zaman baheula –tepatnya ketika aku masih SMP, rasanya pengeeeen ‘banget-banget-banget’ sekolah pake celana panjang. Istilahnya “ngidam” gitu, eiiih,. emang sedang hamil pho? Kok pake ngidam segala. Maklum, aku belajar di sekolah negeri. (Sebenarnya sejak SD sampai kuliah aku tetap masuk ke sekolah negeri). Yah, mungkin karena cinta akan negeri sendiri sih, itu alasan singkatnya. (baca: pakailah produk-produk dalam negeri.) LOL.
Jadi begini, Sekolah Menengah Pertama di sekolah negeri itu
aturannya masih pakai celana pendek. Lututnya masih kelihatan –padahal itu
aurat loh. Dan pada waktu itu aku sudah baligh. Jadi ngerasa gimana
gitu, serba salah, tapi aku dulu masih abal-abal,
(sekarang juga ‘sebenarnya’ masih abal-abal, :D LOL) jadi PD aja pakai
celana pendek di depan umum...
Baik, aku pernah bersekolah di SD Negeri 7 Bukit Kemuning.
Kemudian karena alasan tertentu, aku dipindahkan oleh Abahku ke sekolah yang
lebih jauh dari rumah, yaitu SD Negeri 1 Bukit Kemuning. Kehidupanku normal
layaknya anak-anak yang lain (aku merasa, seperti ituuu..: bilang ‘seperti itu’nya
pakai cara Teteh Syahroni ya..) LOL. [Kok jadi jijay maksimal ya? Entahlah..]
Anyway, setelah tamat dari sekolah tercinta tersebut, aku
melanjutkan lagi sekolah di SMP Negeri 1 Bukit Kemuning.
{Dimana itu?}
(Di Lampung mas..)
{Itu juga dimana?}
(Indonesia)
{Hah?! Indonesia? Itu dimana?}
(Di sekitar Asia, bagian dari Asia Tenggara)
{Asia? Asia Tenggara? Wuah, itu juga dimana? Aku tidak tahu.}
(Bumi!)
{Oh, Bumi. Planet Bumi kan?}
(Hahaha... Hoy..! Ya iya lah, Planet Bumi. Please deh,
Tolong! Lha, kamu siapa sih? Kok nggak tau Asia Tenggara? Kamu juga
nggak tau Indonesia yang super duper negara kepulauan terbesar di dunia, gitu loh?! Emangnya
kamu dari mana dan hendak kemana?)
{Oh, maaf bang! Kenalkan, namaku Moosaevier, dari Pluto. Aku
hendak berkelana keliling alam semesta. Dan ternyata sekarang aku berada di
Bumi. Ini Bumi kan?}
(OMG, wait! Hey, ternyata kamu alien ya! Haha.. Wuah, Sorry
banget ya. Ok, ok. Baik, aku memaklumi! Tapi kok jauh-jauh dari sana terus
kesini? Mau ngapain? Lagi selo ya? LOL. Kalau begitu, selamat datang deh
di Planet Bumi mas Moosaevier! Wuah, aku kedatangan tamu dari jauh nih, dari
Planet sebelah.)
{Iya, terima kasih. Nama kamu Musafir kan?}
(Lha, kok tau? Darimana taunya?)
{Barusan aku men-scan kepalamu, dan otakmu mengatakan bahwa namamu
Musafir. Iya kan? Ayo ngaku!)
(Emmm, iya sih.. Wuah, kamu kok keren sih? Bisa men-scan segala.
Cuma pake mata lagi. Kayak di film-film gitu. Tapi, tunggu. Kok kamu malah
nggak tau dimana letak sekolahku sih? Harusnya kan tau! Kan lebih canggih,
nggak usah pake nanya-nanya segala. Belum kenal sekolahku ya? Disitu kadang aku
merasa sedih?!)
{Wuah, maaf sangat mas Musafir. GPS-ku sedang tidak berfungsi.
Soalnya batterynya habis, boleh numpang nge-charge nggak? Boleh
ya, boleh ya! Please...}
(Emmm, boleh nggak ya? Bentar! Aku mau hitung pake jari dulu,
boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak. Nggak Boleh!)
{Wuah, kok gitu sih? Disitu kadang aku juga merasa sedih?!}
(Wajahmu melas banget. Oke deh. Aku coba hitung sekali lagi ya,
sekarang ditambah pake jari kaki. Nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh.
Yey! Boleh, selamat! Kamu jadi pemenang! Tapi jangan lupa, dipotong pajak ya!
Kamu boleh numpang nge-charge disini. Tapi harus dipotong pajak! Eiihh, maksudku
ada pajaknya!)
{Wuah, Alhamdulillah, yah... terimakasih banyak... J Tapi, kok
ada pajaknya sih? Nggak gratis aja?}
(Ya, iya lah.. Mas Moosaevier punya kartu member nggak? LOL. Dimana-mana nggak ada yang gratis, mas!
Aku kasih tau ya! nih, mau makan, mau minum, mau belanja, semua ada pajaknya.
Mau jalan-jalan ke toko –walaupun kamu nggak beli apapun ditoko itu, tapi tetep
aja harus bayar pajak “parkir”. Tidak cuma itu, kalo mau ke toilet
umum juga harus bayar pajak loh. Kalo untuk tarif baru-baru ini sih,
kabarnya naik. Soalnya harga BBM juga naik. Keren kan di planet kami? Di
planetmu nggak ada pho pajak-pajakan?)
{Nggak ada. Semua fasilitas umum di planet kami bisa dinikmati
gratis oleh semua penduduk Pluto. Pemerintahan di Planet kami cuma satu, jadi
tanggung jawab penuh ada di tangan seorang raja kami. Raja kami baik sekali. Semua
rakyatnya juga patuh kepada beliau. Oh iya, aku bisa jalan-jalan ke Bumi ini, juga
gratis loh. Tapi aku punya misi rahasia yang sedang aku kerjakan. Nggak
harus ASAP [As Soon As Possible] kok. Fleksibel aja semau aku. Soalnya
freelance. Jadi aku bisa kerja, sambil jalan-jalan keliling dunia alam
semesta.}
(Wuah, keren ya... Aku juga mau dong kayak gitu, tapi tunggu! Kamu
punya misi rahasia? Gerangan apakah misi rahasia itu?)
{Emmm, kasih tau nggak ya? Namanya juga kan rahasia, jadi nggak
boleh diketahui oleh sembarang orang. Bentar, aku juga mau hitung pake
jariku, kasih tau-nggak-kasih tau-nggak-kasih tau-nggak-kasih tau-nggak. Wuah,
nggak. Berarti nggak boleh di-kasih tau. Maaf ya.}
(Loh, kok gitu? Coba hitung lagi dong, juga ditambah pakai jari kaki.)
{Ok, nih lihat jari kakiku cuma ada dua, jadi semuanya ada empat.
Jari tanganku semuanya ada delapan. Tadi sampai mana? Di-nggak ya? Jadi lanjut ;
kasih tau-nggak-kasih tau-nggak. Wuah, tetap aja nggak boleh di-kasih tau. Done!}
(Iiiih, kamu kok gitu sih? Tega ya sama aku? LOL. Disitu kadang aku
merasa sedih!)
{Ok, baik-baik. Janganlah dikau merasa bersedih. Aku mau kasih tau, tapi
nanti saja ya. Nggak sekarang. Tunggu waktu yang tepat dan akurat. Biar
informasinya tajam, setajam SILET! ; meniru gaya Mbak Peniti Bross}
(Horee, tapi bener ya, janji. Sini jari kelingkingmu. Kita buat
janji. Titik. Done! Oh iya, kamu kan mau keliling dunia ya? Di bumi ini ada
berbagai macam dunia loh.. kamu mau berkunjung kesana?)
{Oh, iya kah? Memangnya ada dunia apa aja?}
(Ada banyak sekali, kamu nggak tau pho? Mulai dari yang
kecil-kecil ya, nih ada dunia mikroba, dunia semut, dunia serangga, dunia fungi,
dunia hewan, dunia tumbuhan, dunia manusia dan lain-lain. Mau yang abstrak juga
ada kok, dunia sihir, dunia maya, dunia internet. Bahkan ada juga dunia ketiga,
dunia fana, sampai dunia akhirat juga ada. Tapi, kamu harus mati dulu untuk
berkunjung ke dunia akhirat. Eh, ada juga dunia lain. Disana nggak ada makhluk
kasar, semuanya halus. Hayoo, mau pilih yang mana?)
{Duh, yang mana ya? Aku bingung. Sebenarnya semuanya mau aku
kunjungi, tapi bertahap. Bagusnya dimulai dari mana ya? Kalo Dunia Saurus ada
nggak ya?}
(Dunia Saurus? Maksudmu Dinosaurus? Wuah, maaf sekali, Dunia yang
kamu maksud itu sudah lama sekali punah. Sama seperti dunia Atlantis. Mereka
semua punah. Tiada satu pun yang tersisa. Kamu datangnya telat sih. Gimana kalo
dimulai dari dunia maya saja? Kamu punya akun twitter, facebook, atau instagram?}
{Nggak punya, aku cuma punya skype aja. Biar bisa seolah-olah nyata
gitu kalo ngobrol, soalnya bisa sambil lihat wajah lawan bicara.}
(Oh gitu, emang nggak kaget pho lawan bicaramu ketika melihat
wajahmu?)
{Emm, ya nggak dong! Malah banyak yang nge-fans sama aku.
Di Pluto aku ini seniman terkenal. Aku juga seorang sastrawan. Aku suka nulis.
Aku juga seorang pelukis dan penyanyi terkenal. Katanya sih terkenal,
soalnya video-ku di Youtube banyak yang nge-like. Dan aku masuk TV
gara-gara itu. Haha... Wajahku juga hampir mau di-operasi plastik. Biar tambah ganteng gitu.
Tapi ibuku nggak nge-bolehin. Katanya dosa. Akhirnya nggak jadi deh, jadi tetep
aja wajahku apa adanya seperti yang sekarang. Tapi tetep ganteng, cakep, imut,
dan keren kan?}
(What? Aku nggak salah dengar ya? Bentar! Ada plastik asoy nggak? Aku mau buang sesuatu dari mulutku. (baca:muntah) LOL. Emmm, iya deh. Kamu tetep
seperti apa yang kamu maksud kok. Eh, ngemeng-ngemeng kamu itu ternyata keren ya.
Banyak hal yang belum aku ketahui tentang kamu.)
{Iya, makanya jangan nge-judge people by its cover lah.
Biar ndak salah, biar nggak nyesel juga nanti di akhirnya.}
(Oke deh, tadi aku cuma bercanda kok. Betewe, kamu tadi bilang ‘dosa’,
jadi kamu tau konsep dosa? Di Pluto ada ya?)
{Ya iya lah, gini-gini kami juga beragama. Karena kami juga tahu
bahwa kami ini hanyalah makhluk yang diciptakan. Kalau kami diciptakan, berarti
kami ini ada yang menciptakan dong.}
(Maa sya’a Allah, kamu betul. Segala sesuatu yang ada ini
pasti ada yang menciptakan. Mulai dari baju, sandal, sepatu, sampai
bangunan-bangunan yang tinggi menjulang ke langit itu. Bahkan barang-barang
elektronik seperti; laptop, komputer, handphone, mobil, motor, robot, dan
pesawat, semua ini yang menciptakan adalah kami, bangsa manusia. Tentu saja
alam semesta yang super canggih dan besar dengan segala keteraturan sistemnya
ini tidak begitu saja terjadi dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakan,
bukan?)
{Iya, aku juga setuju. Dan lebih hebat lagi, pencipta ini cuma
satu, sendiri saja. Nggak ada sesuatu lain yang setara atau menyerupai Dia. Dia
tidak beranak, tidak pula diperanakkan. Dia Yang Maha Besar, dan Maha Kuasa
atas segala sesuatu.}
(Tentu dong, kalo penciptanya ada dua atau lebih, maka antara satu
pencipta dengan pencipta lainnya akan bertengkar. Mereka pasti akan
saling menguasai satu sama lain. Saling menghancurkan satu sama lain. Maka
tidak akan ada keteraturan yang apik dan rapih di alam semesta seperti sekarang ini.)
{Wuah, kamu pintar ya. Aku juga awalnya salah menilai kamu. Aku
kira kamu tidak tahu apa-apa mengenai Sang Pencipta.}
(Kalo konsep umumnya sih aku tahu. Semua orang juga tahu tentang
itu. Aku juga masih harus banyak belajar kok. Semakin banyak aku belajar,
semakin banyak pula aku mengenalNya. Aku ingin terus mencari ilmu tentangNya.
Kamu tau? Ketika aku semakin melangkah maju, semakin haus pula pengetahuanku
tentang penciptaku. Dan sebisa mungkin aku mematuhi kehendak penciptaku.)
{Bener banget, bro Musafir. Kalau aku malah jadi semakin cinta. Jadi semakin
tau mengapa aku diciptakan dan apa tujuan hidupku diciptakan? Kamu tau
nggak? Ini saat yang tepat bagiku untuk memberitahukan misiku kenapa jauh-jauh datang
dari planet Pluto. Semakin jauh aku berkelana, maka semakin banyak pula
ayat-ayatNya yang bisa aku baca. Semua makhluk yang ada di alam semesta ini, baik
yang ada di planetku, atau di planet-planet lain yang pernah kukunjungi
termasuk Bumi, ternyata semua makhluk itu senantiasa bertasbih memuji penciptaNya.
Masing-masing dari mereka memiliki cara tersendiri dalam bertasbih memuji
Tuhannya yang menciptakan mereka, dan sayangnya pujian mereka belum bisa aku
pahami. Hanya dirinya dan Tuhannya lah yang mengetahuinya.}
(Oh, misimu itu mulia sekali. Aku jadi pengen berkenalan dengan rajamu
yang mengutusmu untuk itu.)
{Boleh, kapan-kapan kamu akan ku ajak main ke istana kerajaan di
Pluto. Semua rakyat bebas keluar-masuk istana. Mereka disambut baik oleh para
pelayan raja. Apalagi kalau ada tamu dari luar Pluto, raja kami akan merasa sangat senang sekali. Tentu kamu akan disambut hangat disana bila berkunjung. Raja
kami sangat baik hati, ramah, cerdas, adil, dan bijaksana. Bagaimana tidak, satu
planet hanya beliau saja rajanya. Tapi jangan salah, meskipun begitu, raja kami
tetap rendah hati, tawadhuk, dan tidak pernah menyombongkan diri. Raja kami
tidak pernah sekalipun men-zhalimi rakyatnya. Raja kami begitu amanah menjalankan
tugas untuk mengayomi rakyatnya.}
(Aku pengeeeeeeeeeen! Beneran. Pengen ‘banget-banget-banget’ ke
istana kerajaan Pluto. Bawalah aku kesana mas Moosaevier. Please...)
{Bersabarlah, saudaraku... Kelak kau akan bisa pergi kesana,
berkelana seperti aku –sambil membawa misi yang mulia. Kita akan belajar
ternyata ada makhluk lain selain diri kita sendiri di luar sana. Dan kita harus
saling respect, saling menghormati satu sama lain. Tidak boleh menyakiti
orang lain, baik dengan tangan ataupun dengan ucapan kita. Mau itu makhluk
hidup ataupun makhluk yang tak hidup. Semua harus kita jaga dan hormati. Tapi yang
terpenting, kita akan belajar bahwa ada Pencipta yang senantiasa mengawasi
kita. Dan segala urusan kita kembalikan kepadaNya.}
(Iya, mas Moosaevier. Makasih banyak ya. Aku jadi banyak belajar dari
mas Moosaevier.)
{Iya, sama-sama. Kita sama-sama saling belajar ya. Oh iya,
ngemeng-ngemeng, ini GPS-ku minta tolong di-chargekan ya.}
(Oh iya, duh. Maaf, keenakan ngorbol ya nyampe lupa. Hehe.. Maaf
ya. Sini. Silakan.)
{Oke, nggak papa. Terimakasih.}
Setelah itu, aku dan mas Moosaevier jalan-jalan mengelilingi Bumi
pakai pesawatnya. Mereka bilang kami ini UFO. Hehe.. Anyway, aku belajar banyak
tentang langit dan bumi, beserta isinya. Dan aku semakin yakin, bahwa mereka semua
ada yang menciptakan dan dijaga dalam keteraturan peredarannya, siang-malam,
hingga waktu yang ditentukan, sesuai atas kehendakNya.
[Wahai Muhammad, katakanlah: “Allah
adalah Tuhan Yang Esa. Allah Yang Menjamin segala kebutuhan makhlukNya. Allah
tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan. Tidak ada sesuatu pun yang menyamai
Allah.” {T.Q.S. Al-Ikhlas (1-4)}]
Kemudian alarm-ku berdering hebat memecah dinginnya kesunyian
subuh, lalu azan tidak lama berkumandang saling bersahutan dari setiap penjuru
rumah Tuhan. Alhamdulillah, untung aku tidak kesiangan. LOL.
![]() |
| Mereka bilang aku ini alien. Namaku Moosaevier. LOL. |
![]() |
| Lihatlah alam dengan hatimu, niscaya engkau akan menemukan keteraturan yang membuatmu menangis tunduk kepada penciptanya. |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar