Selasa, 17 Maret 2015

2. Tasbih Alam Semesta.

Bismillaahirrahmaanirrahim...

Selamat datang di Bumi, Musafiers... Cheeerrs....!!!
Karena aku masih berdarah biru, eih,. maksudku masih berdarah muda, hehe.. (atau berdarah biru-muda ya?! Embuh!), maka muncullah aku dengan tulisan alay-ku, berikut ini. haha...

Jangan terkejut dan,... selamat membaca... :)

Dulu, bukan pada zaman ‘dahoeloe’ kala sih, tapi zaman baheula –tepatnya ketika aku masih SMP, rasanya pengeeeen ‘banget-banget-banget’ sekolah pake celana panjang. Istilahnya “ngidam” gitu, eiiih,. emang sedang hamil pho? Kok pake ngidam segala. Maklum, aku belajar di sekolah negeri. (Sebenarnya sejak SD sampai kuliah aku tetap masuk ke sekolah negeri). Yah, mungkin karena cinta akan negeri sendiri sih, itu alasan singkatnya. (baca: pakailah produk-produk dalam negeri.) LOL.
Jadi begini, Sekolah Menengah Pertama di sekolah negeri itu aturannya masih pakai celana pendek. Lututnya masih kelihatan –padahal itu aurat loh. Dan pada waktu itu aku sudah baligh. Jadi ngerasa gimana gitu, serba salah, tapi aku dulu masih abal-abal, (sekarang juga ‘sebenarnya’ masih abal-abal, :D LOL) jadi PD aja pakai celana pendek di depan umum...
Baik, aku pernah bersekolah di SD Negeri 7 Bukit Kemuning. Kemudian karena alasan tertentu, aku dipindahkan oleh Abahku ke sekolah yang lebih jauh dari rumah, yaitu SD Negeri 1 Bukit Kemuning. Kehidupanku normal layaknya anak-anak yang lain (aku merasa, seperti ituuu..: bilang ‘seperti itu’nya pakai cara Teteh Syahroni ya..) LOL. [Kok jadi jijay maksimal ya? Entahlah..]
Anyway, setelah tamat dari sekolah tercinta tersebut, aku melanjutkan lagi sekolah di SMP Negeri 1 Bukit Kemuning.
{Dimana itu?}
(Di Lampung mas..)
{Itu juga dimana?}
(Indonesia)
{Hah?! Indonesia? Itu dimana?}
(Di sekitar Asia, bagian dari Asia Tenggara)
{Asia? Asia Tenggara? Wuah, itu juga dimana? Aku tidak tahu.}
(Bumi!)
{Oh, Bumi. Planet Bumi kan?}
(Hahaha... Hoy..! Ya iya lah, Planet Bumi. Please deh, Tolong! Lha, kamu siapa sih? Kok nggak tau Asia Tenggara? Kamu juga nggak tau Indonesia yang super duper negara kepulauan terbesar di dunia, gitu loh?! Emangnya kamu dari mana dan hendak kemana?)
{Oh, maaf bang! Kenalkan, namaku Moosaevier, dari Pluto. Aku hendak berkelana keliling alam semesta. Dan ternyata sekarang aku berada di Bumi. Ini Bumi kan?}
(OMG, wait! Hey, ternyata kamu alien ya! Haha.. Wuah, Sorry banget ya. Ok, ok. Baik, aku memaklumi! Tapi kok jauh-jauh dari sana terus kesini? Mau ngapain? Lagi selo ya? LOL. Kalau begitu, selamat datang deh di Planet Bumi mas Moosaevier! Wuah, aku kedatangan tamu dari jauh nih, dari Planet sebelah.)
{Iya, terima kasih. Nama kamu Musafir kan?}
(Lha, kok tau? Darimana taunya?)
{Barusan aku men-scan kepalamu, dan otakmu mengatakan bahwa namamu Musafir. Iya kan? Ayo ngaku!)
(Emmm, iya sih.. Wuah, kamu kok keren sih? Bisa men-scan segala. Cuma pake mata lagi. Kayak di film-film gitu. Tapi, tunggu. Kok kamu malah nggak tau dimana letak sekolahku sih? Harusnya kan tau! Kan lebih canggih, nggak usah pake nanya-nanya segala. Belum kenal sekolahku ya? Disitu kadang aku merasa sedih?!)
{Wuah, maaf sangat mas Musafir. GPS-ku sedang tidak berfungsi. Soalnya batterynya habis, boleh numpang nge-charge nggak? Boleh ya, boleh ya! Please...}
(Emmm, boleh nggak ya? Bentar! Aku mau hitung pake jari dulu, boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak. Nggak Boleh!)
{Wuah, kok gitu sih? Disitu kadang aku juga merasa sedih?!}
(Wajahmu melas banget. Oke deh. Aku coba hitung sekali lagi ya, sekarang ditambah pake jari kaki. Nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh-nggak-boleh. Yey! Boleh, selamat! Kamu jadi pemenang! Tapi jangan lupa, dipotong pajak ya! Kamu boleh numpang nge-charge disini. Tapi harus dipotong pajak! Eiihh, maksudku ada pajaknya!)
{Wuah, Alhamdulillah, yah... terimakasih banyak... J Tapi, kok ada pajaknya sih? Nggak gratis aja?}
(Ya, iya lah.. Mas Moosaevier punya kartu member nggak? LOL. Dimana-mana nggak ada yang gratis, mas! Aku kasih tau ya! nih, mau makan, mau minum, mau belanja, semua ada pajaknya. Mau jalan-jalan ke toko –walaupun kamu nggak beli apapun ditoko itu, tapi tetep aja harus bayar pajak “parkir”. Tidak cuma itu, kalo mau ke toilet umum juga harus bayar pajak loh. Kalo untuk tarif baru-baru ini sih, kabarnya naik. Soalnya harga BBM juga naik. Keren kan di planet kami? Di planetmu nggak ada pho pajak-pajakan?)
{Nggak ada. Semua fasilitas umum di planet kami bisa dinikmati gratis oleh semua penduduk Pluto. Pemerintahan di Planet kami cuma satu, jadi tanggung jawab penuh ada di tangan seorang raja kami. Raja kami baik sekali. Semua rakyatnya juga patuh kepada beliau. Oh iya, aku bisa jalan-jalan ke Bumi ini, juga gratis loh. Tapi aku punya misi rahasia yang sedang aku kerjakan. Nggak harus ASAP [As Soon As Possible] kok. Fleksibel aja semau aku. Soalnya freelance. Jadi aku bisa kerja, sambil jalan-jalan keliling dunia alam semesta.}
(Wuah, keren ya... Aku juga mau dong kayak gitu, tapi tunggu! Kamu punya misi rahasia? Gerangan apakah misi rahasia itu?)
{Emmm, kasih tau nggak ya? Namanya juga kan rahasia, jadi nggak boleh diketahui oleh sembarang orang. Bentar, aku juga mau hitung pake jariku, kasih tau-nggak-kasih tau-nggak-kasih tau-nggak-kasih tau-nggak. Wuah, nggak. Berarti nggak boleh di-kasih tau. Maaf ya.}
(Loh, kok gitu? Coba hitung lagi dong, juga ditambah pakai jari kaki.)
{Ok, nih lihat jari kakiku cuma ada dua, jadi semuanya ada empat. Jari tanganku semuanya ada delapan. Tadi sampai mana? Di-nggak ya? Jadi lanjut ; kasih tau-nggak-kasih tau-nggak. Wuah, tetap aja nggak boleh di-kasih tau. Done!}
(Iiiih, kamu kok gitu sih? Tega ya sama aku? LOL. Disitu kadang aku merasa sedih!)
{Ok, baik-baik. Janganlah dikau merasa bersedih. Aku mau kasih tau, tapi nanti saja ya. Nggak sekarang. Tunggu waktu yang tepat dan akurat. Biar informasinya tajam, setajam SILET! ; meniru gaya Mbak Peniti Bross}
(Horee, tapi bener ya, janji. Sini jari kelingkingmu. Kita buat janji. Titik. Done! Oh iya, kamu kan mau keliling dunia ya? Di bumi ini ada berbagai macam dunia loh.. kamu mau berkunjung kesana?)
{Oh, iya kah? Memangnya ada dunia apa aja?}
(Ada banyak sekali, kamu nggak tau pho? Mulai dari yang kecil-kecil ya, nih ada dunia mikroba, dunia semut, dunia serangga, dunia fungi, dunia hewan, dunia tumbuhan, dunia manusia dan lain-lain. Mau yang abstrak juga ada kok, dunia sihir, dunia maya, dunia internet. Bahkan ada juga dunia ketiga, dunia fana, sampai dunia akhirat juga ada. Tapi, kamu harus mati dulu untuk berkunjung ke dunia akhirat. Eh, ada juga dunia lain. Disana nggak ada makhluk kasar, semuanya halus. Hayoo, mau pilih yang mana?)
{Duh, yang mana ya? Aku bingung. Sebenarnya semuanya mau aku kunjungi, tapi bertahap. Bagusnya dimulai dari mana ya? Kalo Dunia Saurus ada nggak ya?}
(Dunia Saurus? Maksudmu Dinosaurus? Wuah, maaf sekali, Dunia yang kamu maksud itu sudah lama sekali punah. Sama seperti dunia Atlantis. Mereka semua punah. Tiada satu pun yang tersisa. Kamu datangnya telat sih. Gimana kalo dimulai dari dunia maya saja? Kamu punya akun twitter, facebook, atau instagram?}
{Nggak punya, aku cuma punya skype aja. Biar bisa seolah-olah nyata gitu kalo ngobrol, soalnya bisa sambil lihat wajah lawan bicara.}
(Oh gitu, emang nggak kaget pho lawan bicaramu ketika melihat wajahmu?)
{Emm, ya nggak dong! Malah banyak yang nge-fans sama aku. Di Pluto aku ini seniman terkenal. Aku juga seorang sastrawan. Aku suka nulis. Aku juga seorang pelukis dan penyanyi terkenal. Katanya sih terkenal, soalnya video-ku di Youtube banyak yang nge-like. Dan aku masuk TV gara-gara itu. Haha... Wajahku juga hampir mau di-operasi plastik. Biar tambah ganteng gitu. Tapi ibuku nggak nge-bolehin. Katanya dosa. Akhirnya nggak jadi deh, jadi tetep aja wajahku apa adanya seperti yang sekarang. Tapi tetep ganteng, cakep, imut, dan keren kan?}
(What? Aku nggak salah dengar ya? Bentar! Ada plastik asoy nggak? Aku mau buang sesuatu dari mulutku. (baca:muntah) LOL. Emmm, iya deh. Kamu tetep seperti apa yang kamu maksud kok. Eh, ngemeng-ngemeng kamu itu ternyata keren ya. Banyak hal yang belum aku ketahui tentang kamu.)
{Iya, makanya jangan nge-judge people by its cover lah. Biar ndak salah, biar nggak nyesel juga nanti di akhirnya.}
(Oke deh, tadi aku cuma bercanda kok. Betewe, kamu tadi bilang ‘dosa’, jadi kamu tau konsep dosa? Di Pluto ada ya?)
{Ya iya lah, gini-gini kami juga beragama. Karena kami juga tahu bahwa kami ini hanyalah makhluk yang diciptakan. Kalau kami diciptakan, berarti kami ini ada yang menciptakan dong.}
(Maa sya’a Allah, kamu betul. Segala sesuatu yang ada ini pasti ada yang menciptakan. Mulai dari baju, sandal, sepatu, sampai bangunan-bangunan yang tinggi menjulang ke langit itu. Bahkan barang-barang elektronik seperti; laptop, komputer, handphone, mobil, motor, robot, dan pesawat, semua ini yang menciptakan adalah kami, bangsa manusia. Tentu saja alam semesta yang super canggih dan besar dengan segala keteraturan sistemnya ini tidak begitu saja terjadi dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakan, bukan?)
{Iya, aku juga setuju. Dan lebih hebat lagi, pencipta ini cuma satu, sendiri saja. Nggak ada sesuatu lain yang setara atau menyerupai Dia. Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan. Dia Yang Maha Besar, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.}
(Tentu dong, kalo penciptanya ada dua atau lebih, maka antara satu pencipta dengan pencipta lainnya akan bertengkar. Mereka pasti akan saling menguasai satu sama lain. Saling menghancurkan satu sama lain. Maka tidak akan ada keteraturan yang apik dan rapih di alam semesta seperti sekarang ini.)
{Wuah, kamu pintar ya. Aku juga awalnya salah menilai kamu. Aku kira kamu tidak tahu apa-apa mengenai Sang Pencipta.}
(Kalo konsep umumnya sih aku tahu. Semua orang juga tahu tentang itu. Aku juga masih harus banyak belajar kok. Semakin banyak aku belajar, semakin banyak pula aku mengenalNya. Aku ingin terus mencari ilmu tentangNya. Kamu tau? Ketika aku semakin melangkah maju, semakin haus pula pengetahuanku tentang penciptaku. Dan sebisa mungkin aku mematuhi kehendak penciptaku.)
{Bener banget, bro Musafir. Kalau aku malah jadi semakin cinta. Jadi semakin tau mengapa aku diciptakan dan apa tujuan hidupku diciptakan? Kamu tau nggak? Ini saat yang tepat bagiku untuk memberitahukan misiku kenapa jauh-jauh datang dari planet Pluto. Semakin jauh aku berkelana, maka semakin banyak pula ayat-ayatNya yang bisa aku baca. Semua makhluk yang ada di alam semesta ini, baik yang ada di planetku, atau di planet-planet lain yang pernah kukunjungi termasuk Bumi, ternyata semua makhluk itu senantiasa bertasbih memuji penciptaNya. Masing-masing dari mereka memiliki cara tersendiri dalam bertasbih memuji Tuhannya yang menciptakan mereka, dan sayangnya pujian mereka belum bisa aku pahami. Hanya dirinya dan Tuhannya lah yang mengetahuinya.}
(Oh, misimu itu mulia sekali. Aku jadi pengen berkenalan dengan rajamu yang mengutusmu untuk itu.)
{Boleh, kapan-kapan kamu akan ku ajak main ke istana kerajaan di Pluto. Semua rakyat bebas keluar-masuk istana. Mereka disambut baik oleh para pelayan raja. Apalagi kalau ada tamu dari luar Pluto, raja kami akan merasa sangat senang sekali. Tentu kamu akan disambut hangat disana bila berkunjung. Raja kami sangat baik hati, ramah, cerdas, adil, dan bijaksana. Bagaimana tidak, satu planet hanya beliau saja rajanya. Tapi jangan salah, meskipun begitu, raja kami tetap rendah hati, tawadhuk, dan tidak pernah menyombongkan diri. Raja kami tidak pernah sekalipun men-zhalimi rakyatnya. Raja kami begitu amanah menjalankan tugas untuk mengayomi rakyatnya.}
(Aku pengeeeeeeeeeen! Beneran. Pengen ‘banget-banget-banget’ ke istana kerajaan Pluto. Bawalah aku kesana mas Moosaevier. Please...)
{Bersabarlah, saudaraku... Kelak kau akan bisa pergi kesana, berkelana seperti aku –sambil membawa misi yang mulia. Kita akan belajar ternyata ada makhluk lain selain diri kita sendiri di luar sana. Dan kita harus saling respect, saling menghormati satu sama lain. Tidak boleh menyakiti orang lain, baik dengan tangan ataupun dengan ucapan kita. Mau itu makhluk hidup ataupun makhluk yang tak hidup. Semua harus kita jaga dan hormati. Tapi yang terpenting, kita akan belajar bahwa ada Pencipta yang senantiasa mengawasi kita. Dan segala urusan kita kembalikan kepadaNya.}
(Iya, mas Moosaevier. Makasih banyak ya. Aku jadi banyak belajar dari mas Moosaevier.)
{Iya, sama-sama. Kita sama-sama saling belajar ya. Oh iya, ngemeng-ngemeng, ini GPS-ku minta tolong di-chargekan ya.}
(Oh iya, duh. Maaf, keenakan ngorbol ya nyampe lupa. Hehe.. Maaf ya. Sini. Silakan.)
{Oke, nggak papa. Terimakasih.}

Setelah itu, aku dan mas Moosaevier jalan-jalan mengelilingi Bumi pakai pesawatnya. Mereka bilang kami ini UFO. Hehe.. Anyway, aku belajar banyak tentang langit dan bumi, beserta isinya. Dan aku semakin yakin, bahwa mereka semua ada yang menciptakan dan dijaga dalam keteraturan peredarannya, siang-malam, hingga waktu yang ditentukan, sesuai atas kehendakNya.

[Wahai Muhammad, katakanlah: “Allah adalah Tuhan Yang Esa. Allah Yang Menjamin segala kebutuhan makhlukNya. Allah tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan. Tidak ada sesuatu pun yang menyamai Allah.” {T.Q.S. Al-Ikhlas (1-4)}]


Kemudian alarm-ku berdering hebat memecah dinginnya kesunyian subuh, lalu azan tidak lama berkumandang saling bersahutan dari setiap penjuru rumah Tuhan. Alhamdulillah, untung aku tidak kesiangan. LOL.

Mereka bilang aku ini alien. Namaku Moosaevier.  LOL.

Lihatlah alam dengan hatimu, niscaya engkau akan menemukan keteraturan yang membuatmu menangis tunduk kepada penciptanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar