Selasa, 24 Maret 2015

3. Menjadi Belletmen.

Bismillahirrahmaanirrahiim...

Assalaamu’alaikum, Musafiers...
Salaam, artinya damai... ‘ala = atas/kepada, dan kum = kalian.

Semoga kalian sehat selalu, dan makin bersemangat menjalani hari-hari di bumi ini... aamiin...
Baiklah, kali ini aku akan membahas tentang hal yang sedikit penting, emmmm... tunggu! penting gak ya?! Eiih,. gak tau deh ini penting atau nggak. Yow wess, sing penting bermanfaat wae yo,. in sya’a Allah.. :)
Ceritaku bermula sejak pertama kali aku datang ke Jogja, untuk kuliah di UNY (Universitas Nusantara Yogyakarta). :) Aku tinggal di asrama mahasiswa namanya Ulul Albab. Asrama ini keren banget, disana aku dididik keilmuan Islam yang membuatku setidaknya paham akan agama Islam, meskipun sedikit. Hehe... Alhamdulillah..

Pagi hingga sore aku kuliah, sedangkan malam hari waktuku untuk belajar agama. Aku tinggal bersama 3 orang di sebuah rumah kontrakan, dan bagiku cukup nyaman. Alhamdulillah...

Sebenarnya ada beberapa kontrakan milik asrama Ulul Albab ini, tersebar di beberapa tempat yang tidak terlalu berjauhan. Masing-masing rumah ini ditempati oleh beberapa mahasiswa, sedangkan tempat tinggalku terletak di Jalan Kaliurang KM 6,5 –tepatnya di Kentungan.

Setelah setahun aku tinggal di asrama ini, tentu ada banyak hal yang aku dapatkan di kota perantauan ini. Aku mengenal para ustadz yang baik hati dan banyak ilmunya. Nasihat-nasihat mereka yang begitu menenteramkan hati gundah gulana, menyegarkan jiwa yang sedang kehausan, dan menyirami dada agar tetap berlapang dan bijaksana, semoga Allah merahmati mereka.

Selain itu, aku juga mengenal teman-teman dari berbagai kota di Indonesia. Meskipun aku jauh dari orangtua dan sanak saudara, tapi aku merasa seperti hidup di tengah-tengah keluargaku sendiri. Ibarat makan sudah sepiring, tidurpun sudah seatap. Begitu pula bila dirundung kesedihan masalah, kami saling membantu sehingga ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Alhamdulillah...

Lalu tidak lama setelah itu, aku berjumpa dengan seorang musafir dari negeri jauh, Turki. Matanya biru, rambutnya sedikit pirang, kulitnya putih, tubuhnya tinggi-langsing dan hairy. Hehe.. Namanya Latif Ulker abi. Beliau ini lancar sekali berbahasa Indonesia. Aku sedikit heran sekaligus kagum. Kok iso yo? Ternyata beliau sudah beberapa tahun tinggal di Indonesia. Beliau awalnya kuliah di Aceh, lalu pindah ke Jogja dan mendapat gelar sarjana di kota ini. Tapi kemampuan beliau berkomunikasi berbahasa Indonesia patut diacungi jempol. Top markotop, deh. Seringkali aku bertanya atau berbicara menggunakan Bahasa Inggris ke beliau, tetapi dijawab menggunakan Bahasa Indonesia, yah akhirnya terus aja pake Bahasa Indonesia deh selanjutnya. Hehe.. Tapi aku pengen banget bisa berbahasa Turki, sebenarnya sudah belajar sih, cuma aku nggak istiqomah belajarnya, ya hasilnya jadi belepotan kacau sangat bahasa Turkinya. :) huhu...

Pada waktu itu, beliau sedang menjalani studi S2, juga di UNY. Tapi sekarang sudah lulus. 
Alhamdulillah... Cuma aku nih yang S1 saja belum lulus juga, hiks.. Mohon doanya ya, supaya aku segera wisuda.. aamiin... :)

Awalnya pertemuan kami hanya mengobrol santai di Food Court, kemudian lama kelamaan kami saling mengenal satu sama lain. Aku juga merasa nyaman. Hubungan kami semakin akrab, sudah seperti kakak-beradik yang dipertemukan di kota perantauan. Beliau selalu siaga ketika aku mintai pertolongan, dan aku terkadang juga diundang dalam acara spesial. Pokoknya, deket banget. Diketahui bahwa beliau ini tinggal di sebuah tempat, namanya dershane (Bahasa Turki). Aku juga sering berkunjung ke dershane ini.

FYI nih ya, ders itu artinya belajar, hane artinya tempat, jadi dershane adalah tempat belajar. Namun menurut istilah (ciieee,.. kayak wikipedia aja?!) dershane adalah sebuah tempat atau rumah yang disediakan untuk para penuntut ilmu, yang awalnya dicetuskan oleh para Thullaabun Nur –para murid dari seorang ulama besar Turki, Badiuzzaman Said Nursi. Namun sekarang beliau sudah wafat, semoga Allah melapangkan kuburnya dan menempatkan beliau di surgaNya. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang kisah agung ulama hebat ini, bisa membaca novel keren berjudul “API TAUHID”, karya kang abik (Habiburrahman El-shirazy).

Kini perjuangan beliau dilanjutkan oleh seorang murid beliau, yaitu ustadz Muhammad Fethullah Gulen Hoca Efendi. Usaha beliau ini untuk menyebarkan Islam juga luar biasa. Selain aktif berceramah dan memberi kajian untuk murid-murid beliau, buku-buku tulisan beliau juga banyak bertebaran dan sudah diterjemahkan kedalam berbagai macam bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Beberapa buku yang sudah aku baca, seperti; ISLAM, Membangun Peradaban Kita, Qadar, Cahaya Al-Quran, Cahaya Abadi dan masih banyak lagi. Dan semuanya keren-keren...

Nah yang lebih penting lagi, perjuangan Hoca Efendi untuk membangun kesadaran umat Islam tidak sampai disitu, beliau bersama murid-murid beliau mendirikan sekolah-sekolah yang kemudian berkembang ke berbagai negara-negara di dunia. Dan Indonesia, tidak ketinggalan juga untuk mendirikan sekolah yang diampu oleh murid-murid Hoca Efendi. Karena jalan terbaik untuk menyelesaikan berbagai masalah di dunia fana ini ialah dengan pendidikan. Sebut saja korupsi, kemiskinan, kelaparan, atau bahkan peperangan, hanya bisa diselesaikan dengan pendidikan.  Mendidik anak-anak, mendidik ummat, mendidik kita semua dengan ilmu dan akhlak yang mulia.

Ada beberapa sekolah yang mungkin Anda kenal, seperti sekolah Fatih di Aceh, Kharisma Bangsa di Tangerang, Pribadi di Depok dan Bandung, Semesta di Semarang, Kesatuan Bangsa di Yogyakarta, Sragen di Sragen (dekat Solo), dan masih ada beberapa sekolah lagi di berbagai kota di Indonesia yang terus berkembang. In sya’a Allah...

Sekolah-sekolah itulah yang kini tegak berdiri yang dikembangkan oleh murid-murid Hoca Efendi. Ini baru di Indonesia loh, belum di negara lain, belum juga di benua lain, masih ada banyak lagi di luar sana. Mudah-mudahan tetap berdiri tegak namun tetap tawadhuk dan istiqomah dalam menjalankan misi untuk mengajarkan ilmu dan membentuk pribadi yang berakhlak mulia bagi ummat ini. Aamiin yaa Rabb.

Sistem di sekolah-sekolah ini menyediakan tempat tinggal bagi siswa-siswanya, yang kita sebut sebagai asrama. Jadi setiap sekolah ada asramanya. Dan aku, Alhamdulillah, bisa ikut andil dalam dunia pendidikan melalui asrama ini. Memang betul, pendidikan adalah salah satu kunci untuk mengatasi berbagai kekacauan di dunia fana ini. Dengan pendidikan pula, kita bisa berbagi ilmu dan mencetak generasi yang berakhlak mulia luar biasa.

Karena aku bermukim di Jogja, maka aku tinggal di asrama yang terletak di Jogja, yaitu di Kesatuan Bangsa School, Yogyakarta, sejak pertengahan tahun 2011 sebagai Belletmen, pembina asrama. Awalnya aku galau sangat ketika ditawari oleh Latif Abi untuk menjadi pembina asrama di sekolah ini. Berbagai macam pertimbangan muncul, ada pro-kontra, ada keraguan, ada ketakutan, ada perasaan yang menggebu-gebu, dan ada pula keinginan yang besar untuk ikut andil dalam bidang pendidikan (kapan lagi coba kalau ditunda-tunda?), semua bercampur (mix) jadi satu.Aku bingung.

Aku merasa belum pantas untuk membina para siswa, siapalah aku? Aku yang seharusnya dibina, bukan membina. Lagipula, letak antara kampusku dan asrama ini sungguh tidak dekat, kira-kira 30-40 menit perjalanan naik sepeda motor. Aku sekarang kan juga sudah nyaman tinggal di tempatku sekarang ini, bersama teman-teman yang sudah seperti keluarga sendiri, bisa bebas bermain kesana-kemari, kampus-rumah juga dekat sekali. Aku juga bukan alumni di antara sekolah-sekolah ini, aku masih takut untuk menyesuaikan diri. Dan masih banyak lagi pertimbangan lain yang terus aku fikirkan lagi, lagi, dan lagi...

Tiga bulan kemudian, setelah aku shalat istikharah berulang-ulang, barulah muncul perasaan teguh dan mantap; “Wahai Musafir, sudah saatnya engkau berbagi kepada saudara-saudaramu yang lebih muda, buang jauh-jauh rasa egoismu untuk menikmati hidupmu sendiri, biarkanlah letaknya jauh karena itulah pengorbanan sejati yang tidak mengenal jarak bila engkau paham akan makna perduli. Pergilah, kunjungilah, dan sayangilah adik-adikmu disana dengan hati yang tulus, ajarilah mereka yang belum paham, nasihatilah mereka agar terus berbakti, berbagilah pengalaman hidupmu agar mereka terus bersemangat mengarungi bahtera hayati...”

Aku tertunduk, dalam sujud aku menyerahkan diri. Ini adalah perkara besar masalah tanggung jawab, amanah yang tidak boleh disia-siakan. Sekali lagi aku melihat diriku sendiri, aku? Siapa aku? Kenapa aku? Dan akhirnya aku berujar dalam hati, “Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung.” Akhirnya aku mantap untuk tinggal bersama keluarga baruku di asrama Kesatuan Bangsa. Selamat datang! :) Hos Geldiniz...!!!

Begitulah kisah perjalananku sehingga aku bisa sampai disini, bersama anak-anakku tersayang... cieeee, hehe,.
Selalu saja ada banyak orang yang bertanya-tanya, bagaimana sih, kok bisa aku disini, dan biasanya aku iseng karena bosan menceritakan lagi, lalu kujawab singkat,

“Aku punya teman, tikus pengerat penggali tanah. Aku dan dia bersama-sama membuat terowongan di dalam tanah ke berbagai negara, tiba-tiba saat muncul ke permukaan, ternyata aku ada disini, akhirnya aku mampir dulu disini. LOL. Selesai.” Atau,

“Aku punya teman, mas Moosaevier dari planet Pluto. Aku dan dia jalan-jalan keliling bumi pakai pesawat UFO, tiba-tiba kami mendarat disini. Setelah itu dia pergi dan aku tetap tinggal disini, selesai. LOL.” Hehe...

Untuk kisah selanjutnya, mengenai pengalaman-pengalaman seruku di asrama, in sya’a Allah aku lanjutkan lagi nanti. Aku mau nggarap skripsiku dulu, hehe...
Soalnya dia udah dari tadi memanggil-manggil, “Ayo, kerjain aku, kerjain aku..” sambil tangannya melambai-lambai kayak zombie, hhiiii... :D

Iya juga sih, kalo nggak dikerjain, nanti malah dia yang ngerjain aku... hiiii.... :p
Baiklah, ayo skripsi... sini.
Yuk, kita mengembangkan layar perahu, mengarungi lautan teori dan mampir ke pelabuhan data-data.
Ay ay captain!” jawabnya semangat.
Sampai disini dulu ya, bye-bye....


Wassalaamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh...

2 komentar:

  1. Masya Allah! Luar biasa! Tulisan ini sangat menginspiratif sekaligus menggelitik pemikiran para pembaca. Selain diksi dan gaya bahasa yang memikat, konten tulisan ini sendiri penuh pesan dan motivasi yang membangun. Lanjutkan! Mulai saat ini saya akan terus follow blog ini dan mengecek setiap hari apabila ada update terbaru. Terima kasih atas goresan pena Anda Mas al-Ghifary :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Abang, tulisan ini biasa saja...
      Hanya merekam kembali jejak kehidupanku di dunia fana ini, agar tidak hilang tertelan waktu...
      Oh iya, bila engkau memujiku, sungguh engkau belum tahu akan aibku...
      Aku berlindung kepada Allah, Tuhan semesta alam, dari segala keburukanku...
      Untuk engkau pun juga harus bersemangat, ya...
      Sekali lagi terimakasih atas dukungan dan pesannya, semoga bermanfaat dunia akhirat... :)

      Hapus